note: sebuah artikel untuk suaranum.com (currently dormant)
link asal: here

Lama saya memikirkan untuk menuangkan perkara yang bermain dalam kepala otak saya ini ke dalam sebuah tulisan, untuk tatapan umum. Bila saya mula menulis, rasa takut dan gementar mula mengalir. Segala macam hantu dan bayang-bayang muncul sekonyong-konyongnya. Apatah lagi tulisan saya ini bakal menyangkut persoalan agama, negara dan Islam. Kenapa saya boleh jadi takut?

Read the rest of this entry »

Catatatan karut buatmu.

(i)
Petang, segelas susu panas,
aku dan engkau,
roti canai banjir kari.
Kemudian kita berbaring, berpeluk dan bergolek di bawah pohon-pohon tua dan daun-daun coklat yang gugur, cemas retak kulitnya kayu, takut-takut rentak gergaji datang merabak retak, menghentak belah dan menebangnya jatuh tersungkur tersembam menyembah kaki, tinggal tunggul mereput.
Rehat kita di bawah rendang dahan pohon tua, di tebing simen sungai Gombak, dan burung-burung gagak berteriak, masjid India selepas hujan. Berat kepalaku basah dengan resah;
Modal menimbun, berkecah dan lecah, membonyer bertambah kental
Ketat, likat, liat dan liar kertas-kertas bercetak nota nilai, duit merabit, wang bergewang, menyabit kepala, mengelar-ngelar leher lapar.

Read the rest of this entry »

Keresahan menerpa
pada terbit rasa kerinduan
jiwa yang terbungkam kelam
menyasau dan tersasar
sedang keindahan itu bukan nyata
hanya bebayang maya.
aku kini kembali menjejak tanah;
tanah yang sebati dengan darah.
aku kini pulang
menghirup titis-titis air;
air yang bertakung pada mata.
perjalanan hidup
saujana merimbun pengalaman
alam yang bebas
menggugah tangan yang tergenggam.
Seringkali aku kurang pasti
antara pesona dan sebenar cinta
yang mana hati terpaut?

16 ogos 1998
8 mlm, kamar 2-3, bakawali

Hidup kita manusia ini
memang mesti jadi pemain
atas panggung alam
atau
dunia telah mempermainkan kita
dan kitapun bermain.
kerna hidup adalah satu permainan
maka bumipun adalah sebiji bola
(atau sebiji bola itu adalah bumi)
dan kitapun hidup dalam sebiji bola
yang ditendang, ditimang, ditanduk
dan disepak sesuka hati
kitapun bergolek dan berputar
pada orbit yang menerbit
rasa gugah pada kemanusiaan.
Dan pastinya rasa kemanusiaan itu
jadi bola yang dipermainkan.
lalu akan muncul Sang Juwara dan Tertewas
dan kitapun tahu
Sang Juwara itu terus hidup dalam permainan
dan yang tertewas itu
akan terkeluar dari permainan
untuk hidup dalam kehidupan
bukan dalam permainan.

10.38 pagi, 23 julai 98
sanggar pelakon, um

(i)
Ogos itu,
gerimis turun tika senja memerah di langit tawa
kegalauan mengundang dalam rindu gelisah yang bersarang
keasyikan melarik-larik
pada dedaun perasaan yang terusap.
kalau engkau masih saja tidak lupa
kita telah berjalan beriringan
dan mata malu seorang lelaki ini
menelanjangi dirimu;
melihat tubuh yang padat
wajah yang tersurat
melihat ke segenap batinmu yang resah
lantas
bantinku telus dalam batinmu:
“Aku pungguk perindu, ingin bersamamu puteri kenyalang terbang di awangan rasa
menghempaskan diri pada ombak gelora
dan laut China Selatan bukan lagi pemisah setia
di sini,
kita telah di pertemukan dari jarak beratus batu antara kota selatan dan bumi kenyalang
ku ingin melayah bebas bersamamu, kita lepas kembara, meraih kuntum-kuntum bahagia, mengecap pengalaman dari kelopak cinta yang berbunga.”
Tapi ada hakikat yang mengikat
menyekat batinku dari terus menjilat ruang padat batinmu.

Read the rest of this entry »

Aku diam di daerah terpinggir
memerhati langit kota memerah
darah membasahi wajah,
tubuh-tubuh tua yang luka,
riak pada garis-garis jiwa yang mati
beku dan terkaku
aku tidak bebas, tidak juga terpenjara
tapi kekalutan yang meresah
telah menyisihkan kebenaran dan kepalsuan
antara dua titik itu
aku berdiri di tengahnya
untuk menilai;
kepastian yang kabur
dan kekaburan yang pasti.

2.35 petang, 9 september 1998
petri jaya, kota tinggi, johor

malam telah memeluk tubuhku
lena di ranjang yang tergugah
aku terbaring dalam kelam
merasa diri lemah seolah tak bernyawa.
segala laku yang terkaku
menyisir rentak usiaku
dengan suara mesra kelembutan
membisik jauh
meninggalkan jejak-jejak yang di atur.
igauan-igauan indah enak mentertawakan mimpi,
pada hidup yang ngeri
sentiasalah menanti.

1.33 pagi
8 november 1998
astana sri tanjung, um

Hidup yang kelam;
aku terpinggir dalam luruh kekalutan yang meluka.
Jalan-jalan terbuka
mengoyak jiwa
memancung keteguhan
dan
mengalirkan keresahan.
diri terpisah dari harapan
hati berdayung pada kepastian
tapi kebenaran yang kabur mengosongkan jiwa.

7 April 1999
12.40 malam
kamar koy, bangsar utama

Berbaring di jalan batu
tubuh lesu
dan saraf kaku.
Jiwa sempit memerhati langit yang luas;
burung-burung terbang bebas
arah berpandu pada sayap dan mata,
manusia menjerit;
menjilat derita yang perit
tapi
kebenaran masih terluka
dan
suara masih lagi memamah rasa pahit.

14 april 1999
2 ptg
kl

Serpihan kaca yang mengalir;
mengeringkan tangis
pada airmata marah.
api yang marak membakar;
memadamkan nyanyi derita
pada nyala kelukaan.

14 april 1999
kl